Menurut para pakar domba seperti
Prof. Didi Atmadilaga dan Prof. Asikin Natasasmita, bahwa domba Garut merupakan
hasil persilangan antara domba lokal, domba Kaapstad (ekor gemuk) dan domba
Merino yang dibentuk kira-kira pada pertengahan abad ke 19 (±1854) yang
dirintis oleh Adipati Limbangan Garut, sekitar 70 tahun kemudian yaitu tahun
1926 domba Garut telah menunjukan suatu keseragaman. Bentuk tubuh domba Garut
hampir sama dengan domba lokal dan bentuk tanduk yang besar melingkar
diturunkan dari domba Merino, tetapi domba Merino tidak memiliki "insting"
beradu. Domba Garut yang memiliki sifat beradu dengan fisik yang besar dan kuat
ini, melahirkan seni atraksi laga domba.
Domba Garut merupakan hasil
persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil
dan domba Kaapstad (ekor gemuk) dari Afrika. Domba ini dikenal oleh masyarakat
dengan sebutan domba Garut, yang dikenal juga dengan sebutan domba priangan.
Usaha ternak domba di Kabupaten Garut telah lama diusahakan oleh petani ternak
di pedesaan yang hampir tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Garut, baik
sebagai usaha pokok maupun usaha sampingan yang dipadukan dengan usaha tani.
Pemeliharaan domba Garut sebagai domba tangkas (laga) telah sejak lama
dilakukan oleh para peternak, penggemar ketangkasan domba dengan perlakuan yang
sangat istimewa serta kepemilikan domba tersebut dahulu disebut
"juragan".
Peternak pemelihara domba Garut
harus memiliki nilai jiwa seni yang khusus serta akrab dengan domba. Berbagai
upaya dan pengorbanan para peternak domba Garut semata-mata diarahkan untuk
menciptakan keunggulan domba Garut pejantan di arena perlombaan (ketangkasan),
sebab domba laga yang unggul akan menyandang gelar juara serta mendapat nilai
jual yang melonjak tinggi. Oleh karena itu keberadaan usaha ternak domba dapat
memberikan kontribusi nyata terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dalam
memanfaatkan sumber daya alam.
Ternak domba umumnya dipelihara
secara tradisional yang berfungsi sebagai tabungan, sumber pupuk kandang serta
sumber pendapatan sebagai hewan kesayangan, rata-rata tingkat kepemilikan
umumnya rendah yaitu dibawah 10 ekor per keluarga petani. Hal tersebut tidak
mengurangi nilai keberadaan ternak domba di masyarakat karena keterampilan
petani ternak tersebut dapat diandalkan bila mereka diberi motivasi usaha dan
tingkat permodalan yang memadai. Hal ini karena selain cocok dengan lingkungan
setempat juga sudah akrab dan menjadi tradisi yang turun temurun dengan
masyarakat petani di daerah, khusus domba Garut sebagai domba laga atau sebagai
hewan kesayangan, biasanya dipelihara oleh mereka yang memiliki tingkat
permodalan yang kuat, karena harga domba tersebut sangat memiliki harga yang
mahal dan unsur seni serta keindahan yang ditonjolkan.
Sejalan dengan keberadan ternak
domba yang beredar dimasyarakat selama ini, maka Pemerintahan Kabupaten Garut
menjadikan domba Garut sebagai komoditas unggulan serta menjadi kebanggaan
nasional karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh jenis domba lainnya
di dunia. Salah satu keistimewaan domba Garut yaitu domba jantan dengan anatomi
tanduknya yang bermacam-macam, tubuhnya serta sifat-sifat yang spesifik sebagai
domba adu dan terkenal dengan domba tangkas dan sekarang lebih dikenal dengan
domba laga, karena domba adu memiliki konotasi yang kurang baik di masyarakat.
Berat badan domba Garut dapat
mencapai 40 sampai 80 kg, bahkan dapat mencapai 100 kg lebih. Menurut Dody
Suhandi Sekjend HPDKI, bahwa domba Garut selain memiliki keistimewaan juga
sebagai penghasil daging yang sangat baik dalam upaya meningkatkan produksi
ternak domba. Jenis domba Garut tergolong jenis domba terbaik, bahkan dalam
perdagangannya dan paling cocok serta menarik perhatian banyak masyarakat,
mudah dipelihara oleh petani kecil karena relatif lebih mudah pemeliharaannya
dan lebih cepat mengbasilkan serta mudah diuangkan.
Ciri khas domba garut jantan
terletak pada ukuran tanduknya yang besar dan melengkung ke belakang. Tanduk
domba jantan dapat berwarna hitam atau putih. Tanduk yang berwarna dominan
hitam dengan belang putih umumnya lebih keras dan padat. Bagian dalam tanduk
tidak kopong. Sebaliknya, tanduk yang berwarna putih atau hitam tanpa corak
umumnya memiliki bagian dalam tanduk yang kopong. Karena itu, tanduk yang
belang umumnya lebih bagus dibandingkan dengan tanduk yang memiliki satu warna
saja.
Berbeda dengan jantan, domba betina
tidak memiliki tanduk. Karena ukuran tubuh dan tanduknya yang besar dan kuat,
domba garut juga sering dijadikan sebagai domba aduan terutama di daerah
asalnya Garut. Aduan domba garut ini menjadi andalan masyarakat Garut sebagai
Kesenian khas daerah. Semakin kuat, harganya semakin mahal dan dapat dijadikan
sebagai standar status sosial seseorang. Selain itu, domba Garut juga memiliki
kulit dan kualitas yang bagus. Bahkan dapat menjadi salah satu yang terbaik
didunia. (Budi S. Setiawan. 2011 : 20)