Minggu, 25 November 2018

Pertunjukan Seni Ketangkasan Domba Garut

      Pertunjukan seni Ketangkasan Domba Garut tidak dapat dilepaskan dari adanya peranan HPDKI yang telah mengembangkan pertunjukan seni ketangkasan domba Garut sebagai nilai seni dan budaya Sunda. Bidang seni ketangkasan domba Garut memandang ternak seni dan ketangkasan domba Garut, yaitu domba jenis tertentu yang dibudidayakan dengan tujuan utama untuk pementasan seni dan ketangkasan laga, yang pada akhirnya juga dapat menghasilkan nilai seni.

Foto 1. Pertunjukan Seni Ketangkasan Domba Garut

Pertunjukan seni ketangkasan domba garut telah memberikan dampak ekonomi, sosial dan budaya terhadap masyarakat yaitu:
a.     Dari segi ekonomi
      Dampak ekonomi yang terjadi pada masyarakat yaitu mereka peternak berusaha mengurus dan melatih dombanya sebaik mungkin supaya dalam kontes, domba tersebut dapat menjadi juara sehingga harga jual domba tersebut dapat dijual dengan harga yang mahal. Sehingga tidak heran apabila ada harga domba yang seharga dengan kendaraan roda empat.
b.     Dari segi budaya
      Seni ketangkasan domba Garut ini merupakan bentuk kesenian Sunda yang lahir, tumbuh dan berkembang di wilayah Sunda, yang dalam perkembangannya mendapatkan pengaruh-pengaruh dari kebudayaan lain namun tentunya hal tersebut tidak menghilangkan kepribadian seni ketangkasan domba Garut sebagai bentuk keaslian budaya Sunda.
c.      Dari segi sosial
      Seni ketangkasan domba garut dapat dijadikan sebagai tempat ajang silaturahmi bagi para peternak domba, masyarakat, pedagang, dan para pejabat instansi pemerintahan yang terlibat. Karena di ajang seni ketangkasan domba garut semua yang terlibat didalamnya mempunyai kedudukan yang sama, dan seni ketangkasan domba garut zaman sekarang tidak hanya untuk kalangan menengah ke bawah saja tapi kawasan atas juga sekarang berlomba - lomba untuk mengikuti ajang seni ketangkasan domba garut ini. Selain itu tidak heran apabila di ajang seni ketangkasan domba garut ini menemukan penggemar atau pecinta domba garut banyak dari kalangan perempuan. 

Sistem Pertandingan Seni Ketangkasan Domba Garut

Sistem Pertandingan dalam liga/kontes seni ketangkasan domba terdapat dua sistem pertandingan, yaitu:
  1.   Sistem tanding dalam
Sistem tanding dalam adalah sistem pertandingan dengan mencari pasangan tanding (nyandingkeun) setelah salah satu domba dimasukan ke pakalangan, sistem ini biasanya memakan waktu yang cukup lama dan kurang efektif. Sistem tanding dalam ini biasanya dilakukan dalam kegiatan latihan rutin seni ketangkasan domba Garut setiap minggunya dibeberapa daerah secara bergiliran.
  2.   Sistem tanding luar
Sistem tanding luar adalah sistem pertandingan dengan mencari pasangan tanding (nyandingkeun) sebelum domba di masukan ke pakalangan, sistem ini cukup efektif dalam pengaturan waktu penyelenggaraan. Sistem pertandingan ini adalah sistem pertandingan yang banyak digunakan dalam liga/kontes seni ketangkasan domba. Biasanya di dalam liga/kontes seni ketangkasan domba dilakukan sistem pertandingan luar terbuka, kecuali pada HPDKI Cup sistem yang digunakan adalah sistem tanding luar, tetapi tidak boleh dalam satu wilayah cabang HPDKI.

Setiap pertandingan seni ketangkasan domba garut dibagi ke dalam dua ronde dan masing-masing ronde terdiri dari ronde 1 lima belas kali tumbukan kepala dan ronde 2 lima kali tumbukan kepala. Setiap tumbukan antar kepala adalah pukulan terbaik. Semakin jauh domba mengambil ancang-ancang, maka kian bagus nilai pamidangannya karena benturan yang dihasilkan juga semakin kuat. Penilaian dilakukan setelah pukulan ke delapan. Dalam seni ketangkasan domba jarang terjadi kecelakaan pada ternak domba apalagi sampai terjadi cacat atau mati, sebab setiap pertandingan selalu diawasi oleh : 3 Juri, 1 Dewan Juri,1 Wasit.

Kategori Domba Garut


Penilaian Seni Ketangkasan Domba Garut

Penilaian pada liga/kontes seni ketangkasan adu domba meliputi lima kriteria, antara lain;
  1.   Bentuk/adeg-adeg
Penilaian berdasarkan bentuk/ adeg-adeg adalah menilai postur tubuh dari domba itu sendiri. Bentuk badan domba yang proposional antara kepala, badan,dan kaki. Leher yang kokoh menopang kepala, serta kepala yang kokoh menjadi penilaian tersendiri oleh para juri. Nilai keseluruhan dari bentuk/adeg-adeg ini maksimal berjumlah 25 poin.
  2.   Kesehatan
Penilaian berdasarkan kesehatan meliputi kebersihan domba, kesehatan, dan kerapihan domba. Kebersihan domba meliputi seluruh badan domba, akan terlihat kebersihan domba dari cara perawatan yang dilakukan oleh pemilik domba itu sendiri. Kesehatan domba meliputi kesehatan yang nampak pada luar tubuh domba maupun yang kesehatan dalam pada tubuh domba. Sedangkan kerapihan dilihat dari kerapihan bulu domba, bila domba tidak dicukur maka akan terkesan tidak terawat. Biasanya bulu domba yang dicukur adalah bulu dari pangkal pundak sampai ke tubuh bagian belakang, sedangkan bulu yang berada dibawah leher tidak dicukur dibiarkan panjang (nyinga). Nilai keseluruhan dari kesehatan domba ini maksimal berjumlah 10 poin.
  3.   Teknik pamidangan
Penilaian berdasarkan teknik pamidangan meliputi panjang (jauh) atau pendeknya (dekat) langkah ancang-ancang domba ketika kontes seni ketangkasan domba berlangsung. Keindahan melangkah, dan cepat atau lambatnya gerakan maju mundur untuk melakukan ancang-ancang dalam menyerang. Teknik pamidangan ini merupakan hasil pelatihan domba oleh pemiliknya. Nilai keseluruhan dari tenik pamidangan domba ini maksimal 30 poin.
  4.   Teknik pukulan
Penilaian berdasarkan teknik pukulan meliputi teknik melakukan pukulan, keras atau lemahnya pukulan, dan mantap atau tidaknya pukulan. Penilaian pada teknik pukulan dimulai pada pukulan ke delapan, apabila domba tidak bisa melanjutkan pertandingan sebelum pukulan kedelapan maka domba tersebut dianggap gugur. Nilai keseluruhan dari teknik pukulan ini maksimal memperoleh 25 poin.
  5.   Keberanian         
Dan terakhir adalah penilaian untuk keberanian domba, yang meliputi mental dan daya tahan bertanding. Domba Garut memiliki karakter yang agresif dan postur relatif besar dibandingkan dengan domba-domba lokal lainnya. Tetapi belum tentu domba tersebut memiliki mental dan daya tahan yang baik. Mental dan daya tahan tergantung pada pelatihan domba tersebut. Ada istilah untuk domba yang memiliki mental dan daya tahan yang baik, domba tersebut biasanya disebut gajah muling oleh penggemar seni ketangkasan domba. Nilai keseluruhan dari keberanian domba adalah 10 poin.

Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Sunda

Pembahasan kehidupan sosial budaya sunda terdapat dalam tulisan Ajip Rosidi tentang Ciri-ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda yang terdapat pada buku Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya dengan editor Edi S. Ekadjati (1984), yang menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya ternyata masyarakat Sunda selamanya merupakan masyarakat terbuka yang mudah sekali menerima pengaruh dari luar, tetapi juga kemudian menyerap pengaruh itu sedemikian rupa sehingga menjadi miliknya sendiri (Ajip Rosidi, dalam Sedyawati. 1984 : 133).  

Orang Sunda merupakan orang yang terbuka terhadap perubahan, akan tetapi bagi orang Sunda suatu kebudayaan dapat ditolak atau diterima tergantung kesesuainnya dengan tradisi dan kebudayaannya. Begitu pun juga dengan keberadaan seni ketangkasan domba Garut. Seni ketangkasan domba Garut ini merupakan bentuk kesenian Sunda yang lahir, tumbuh dan berkembang di wilayah Sunda, yang dalam perkembangannya mendapatkan pengaruh-pengaruh dari kebudayaan lain namun tentunya hal tersebut tidak menghilangkan kepribadian seni ketangkasan domba Garut sebagai bentuk keaslian budaya Sunda. Masyarakat Sunda merupakan masyarakat yang memiliki ciri khas yang unik.

Dalam budaya dapat dikatakan, bahwa yang disebut suku bangsa Sunda adalah orang-orang yang secara turun-temurun menggunakan bahasa-ibu bahasa Sunda serta dalam kehidupan sehari-hari, dan berasal serta bertempat tinggal di daerah Jawa Barat, daerah yang juga sering disebut tanah Pasundan atau Tatar Sunda (Harsojo dalam Zainul Asmawi & Didin Saripudin. 2004 : 177). Mengacu kepada tulisan diatas yang menyatakan bahwa masyarakat Sunda adalah masyarakat yang terbuka dan mudah sekali menerima pengaruh dari luar, hal ini sesuai dengan kajian yang dilakukan peneliti yaitu masyarakat Sunda yang sudah mendapat pengaruh dari kebudayaan lain terutama dalam hal pengunaan bahasa sehari-hari. Sehingga tulisan di atas memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kehidupan dan kebudayaan masyarakat Sunda yang terdapat di Jawa Barat.

Karakteristik Domba Garut

Tanduk / Rengreng
Salah satu yang menjadi keistemewaan domba Garut yaitu domba jantan dengan anatomi tanduk yang bermacam-macam. Domba Garut memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung/spiral, dengan pangkal tanduk kanan dan  kiri hampir  bersatu. Pada masa sebelum berubah menjadi seni ketangkasan domba Garut, tanduk domba Garut bentuknya masih belum variatif seperti sekarang. Hal ini dikarenakan yang menjadi prioritas utamanya kemampuan beradu domba Garut bukan dinilai dari aspek keindahannya.

Berikut jenis bentuk tanduk domba Garut jantan, antara lain;
1. Gayor (posisi tanduk yang ujungnya mengarah ke tengah).
2. Ngabendo  (bentuk tanduk dengan melingkar ke belakang dan mengarah ke depan)
3. Leang - leang (bentuk tanduk dengan sedikit lengkungan dan mengarah ke samping).
4. Ngagolong tambang (bentuk tanduk melengkung ke samping dan menggulung).

Jika kita menyaksikan seni ketangkasan domba Garut, tanduk/ rengreng diolesi minyak sereh/minyak kelapa/mentega, hal ini bertujuan agar tanduk tersebut terlihat mengkilap. Dengan demikian fungsi dari pengolesan minyak tersebut agar domba tampak lebih bersih sehingga dapat berpengaruh kepada penilaian ketika berlangsungnya liga/kontes seni ketangkasan domba Garut.

Ciri – ciri domba garut
1. Bertubuh besar, lebar, dan lehernya kuat
2. Domba priangan jantan memiliki tanduk besar dan kuat, melengkung ke belakang spiral, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir menyatu.
3. Domba priangan betina tidak memiliki tanduk, panjang telinga sedang, dan terletak di belakang tanduk.

Keistimewaan Domba Garut
Salah satu keistimewaan ternak Domba Garut yaitu ternak domba jantan dengan anatomi tanduknya yang bermacam-macam, tubuhnya serta sifat-sifat yang spesifik sebagai domba adu dan terkenal dengan domba tangkas dan sekarang lebih dikenal dengan domba laga.

Selasa, 20 November 2018

Asal Mula Seni Ketangkasan Domba Garut Sebagai Permainan Rakyat

Seni Ketangkasan domba garut juga dapat dikatakan sebagai sebuah permainan rakyat, karena sebuah permainan rakyat berasal dari kebosanan manusia di dalam menjalani rutinitas kehidupannya yang monoton. Manusia membutuhkan kegiatan selingan yang bersifat menghibur yang bisa menimbulkan kegairahan di dalam hidupnya. Dari alasan itulah permainan rakyat tercipta sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam mengatasi kebutuhan hidup yang bervariasi.

Asal mula seni ketangkasan domba garut adalah sebagai kegiatan selingan yang dilakukan para anak gembala domba Garut di awal tahun 1900-an. Kegiatan mengembalakan domba bagi anak-anak gembala sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang dilakukannya dan setiap hari jum’at domba tersebut biasa dimandikan. Kegiatan yang monoton menggembalakan domba Garut menimbulkan kebosanan bagi para anak gembala, dan maka dari itulah terciptalah permainan ngadu domba sebagai selingan cuma iseng yang bersifat menghibur di tengah rutinitas sehari-hari.

Asal-Usul Domba Garut menjadi Domba Tangkas/Adu

Menurut para pakar domba seperti Prof. Didi Atmadilaga dan Prof. Asikin Natasasmita, bahwa domba Garut merupakan hasil persilangan antara domba lokal, domba Kaapstad (ekor gemuk) dan domba Merino yang dibentuk kira-kira pada pertengahan abad ke 19 (±1854) yang dirintis oleh Adipati Limbangan Garut, sekitar 70 tahun kemudian yaitu tahun 1926 domba Garut telah menunjukan suatu keseragaman. Bentuk tubuh domba Garut hampir sama dengan domba lokal dan bentuk tanduk yang besar melingkar diturunkan dari domba Merino, tetapi domba Merino tidak memiliki "insting" beradu. Domba Garut yang memiliki sifat beradu dengan fisik yang besar dan kuat ini, melahirkan seni atraksi laga domba.         

Domba Garut merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil dan domba Kaapstad (ekor gemuk) dari Afrika. Domba ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan domba Garut, yang dikenal juga dengan sebutan domba priangan. Usaha ternak domba di Kabupaten Garut telah lama diusahakan oleh petani ternak di pedesaan yang hampir tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Garut, baik sebagai usaha pokok maupun usaha sampingan yang dipadukan dengan usaha tani. Pemeliharaan domba Garut sebagai domba tangkas (laga) telah sejak lama dilakukan oleh para peternak, penggemar ketangkasan domba dengan perlakuan yang sangat istimewa serta kepemilikan domba tersebut dahulu disebut "juragan".

Peternak pemelihara domba Garut harus memiliki nilai jiwa seni yang khusus serta akrab dengan domba. Berbagai upaya dan pengorbanan para peternak domba Garut semata-mata diarahkan untuk menciptakan keunggulan domba Garut pejantan di arena perlombaan (ketangkasan), sebab domba laga yang unggul akan menyandang gelar juara serta mendapat nilai jual yang melonjak tinggi. Oleh karena itu keberadaan usaha ternak domba dapat memberikan kontribusi nyata terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Ternak domba umumnya dipelihara secara tradisional yang berfungsi sebagai tabungan, sumber pupuk kandang serta sumber pendapatan sebagai hewan kesayangan, rata-rata tingkat kepemilikan umumnya rendah yaitu dibawah 10 ekor per keluarga petani. Hal tersebut tidak mengurangi nilai keberadaan ternak domba di masyarakat karena keterampilan petani ternak tersebut dapat diandalkan bila mereka diberi motivasi usaha dan tingkat permodalan yang memadai. Hal ini karena selain cocok dengan lingkungan setempat juga sudah akrab dan menjadi tradisi yang turun temurun dengan masyarakat petani di daerah, khusus domba Garut sebagai domba laga atau sebagai hewan kesayangan, biasanya dipelihara oleh mereka yang memiliki tingkat permodalan yang kuat, karena harga domba tersebut sangat memiliki harga yang mahal dan unsur seni serta keindahan yang ditonjolkan.

Sejalan dengan keberadan ternak domba yang beredar dimasyarakat selama ini, maka Pemerintahan Kabupaten Garut menjadikan domba Garut sebagai komoditas unggulan serta menjadi kebanggaan nasional karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh jenis domba lainnya di dunia. Salah satu keistimewaan domba Garut yaitu domba jantan dengan anatomi tanduknya yang bermacam-macam, tubuhnya serta sifat-sifat yang spesifik sebagai domba adu dan terkenal dengan domba tangkas dan sekarang lebih dikenal dengan domba laga, karena domba adu memiliki konotasi yang kurang baik di masyarakat.

Berat badan domba Garut dapat mencapai 40 sampai 80 kg, bahkan dapat mencapai 100 kg lebih. Menurut Dody Suhandi Sekjend HPDKI, bahwa domba Garut selain memiliki keistimewaan juga sebagai penghasil daging yang sangat baik dalam upaya meningkatkan produksi ternak domba. Jenis domba Garut tergolong jenis domba terbaik, bahkan dalam perdagangannya dan paling cocok serta menarik perhatian banyak masyarakat, mudah dipelihara oleh petani kecil karena relatif lebih mudah pemeliharaannya dan lebih cepat mengbasilkan serta mudah diuangkan.

Ciri khas domba garut jantan terletak pada ukuran tanduknya yang besar dan melengkung ke belakang. Tanduk domba jantan dapat berwarna hitam atau putih. Tanduk yang berwarna dominan hitam dengan belang putih umumnya lebih keras dan padat. Bagian dalam tanduk tidak kopong. Sebaliknya, tanduk yang berwarna putih atau hitam tanpa corak umumnya memiliki bagian dalam tanduk yang kopong. Karena itu, tanduk yang belang umumnya lebih bagus dibandingkan dengan tanduk yang memiliki satu warna saja.

Berbeda dengan jantan, domba betina tidak memiliki tanduk. Karena ukuran tubuh dan tanduknya yang besar dan kuat, domba garut juga sering dijadikan sebagai domba aduan terutama di daerah asalnya Garut. Aduan domba garut ini menjadi andalan masyarakat Garut sebagai Kesenian khas daerah. Semakin kuat, harganya semakin mahal dan dapat dijadikan sebagai standar status sosial seseorang. Selain itu, domba Garut juga memiliki kulit dan kualitas yang bagus. Bahkan dapat menjadi salah satu yang terbaik didunia. (Budi S. Setiawan. 2011 : 20)

Pertunjukan Seni Ketangkasan Domba Garut

      Pertunjukan seni Ketangkasan Domba Garut  tidak dapat dilepaskan dari adanya peranan HPDKI yang telah mengembangkan pertunjukan seni ...